Prinsip Dasar DevOps

  • IntialBoard
  • Dec 31, 2022
prinsip dasar devops

Pengantar The Three Ways: Prinsip-Prinsip yang Mendasari DevOps

Setelah mengetahui pengertian DevOps, sekarang mari kita telaah lebih dalam dengan memahami prinsip-prinsip yang ada pada DevOps.

Prinsip di balik pola kerja DevOps sejatinya mirip seperti yang diterapkan pada saat mentransformasi dunia manufaktur. Pada tahun 1980-an, terdapat konflik dalam bidang manufaktur yang saat itu begitu terkenal, yaitu melindungi komitmen penjualan dan mengontrol biaya produksi.

prinsip prinsip yang mendasari devops

Sebagai upaya untuk melindungi komitmen penjualan, sales manager (manajer penjualan) menginginkan banyak persediaan barang di gudang agar pelanggan selalu memperoleh produk yang mereka inginkan (tidak kehabisan stok). Namun sebaliknya, untuk mengontrol (mengurangi) biaya produksi, plant manager (manajer pabrik) justru ingin mengurangi tingkat persediaan barang di gudang dan memangkas jumlah produk dalam proses produksi (work in process alias WIP). Sebab, sales manager dan plant manager tak mungkin meningkatkan dan menurunkan tingkat persediaan barang secara bersamaan, keduanya pun terjebak dalam konflik yang berkelanjutan.

Waktu berselang, banyak proses yang berubah menjadi lebih baik. Mereka bekerja sama dan akhirnya mampu memecahkan konflik ini dengan memperbaiki beberapa proses produksi, seperti mengurangi jumlah unit yang diproduksi, mengurangi work in process, serta memperkuat umpan balik dari pelanggan. Alhasil, beberapa perbaikan tersebut meningkatkan produktivitas pabrik, kualitas produk, dan kepuasan pelanggan secara drastis.

Pada 1980-an, rata-rata order lead times adalah 6 minggu, dengan kurang dari 70% pesanan dikirim secara tepat waktu. Namun, pada tahun 2005, rata-rata order lead times menurun menjadi kurang dari 3 minggu, dengan lebih dari 95% pesanan dikirim tepat waktu. Sebuah peningkatan yang signifikan, bukan? Kala itu, perusahaan mana pun yang tak mampu meniru terobosan kinerja seperti ini akan kehilangan pangsa pasar atau bahkan bisnisnya gulung tikar.

Catatan: Order lead times adalah waktu yang diperlukan untuk beralih dari “pesanan diterima oleh staf manajemen pabrik” menjadi “pesanan dikirim ke pelanggan”.

Hal serupa pun berlaku pada DevOps. Alih-alih mengoptimalkan bagaimana bahan mentah diubah menjadi barang jadi di pabrik manufaktur, DevOps menunjukkan bagaimana suatu perusahaan dapat memaksimalkan pemanfaatan IT, dengan cara mentransformasi kebutuhan bisnis menjadi kemampuan dan layanan IT yang dapat memberikan nilai dan kegunaan bagi pengguna.

Apabila dalam bidang manufaktur dikenal istilah order lead times, di dunia DevOps terdapat istilah code deployment lead times, yakni waktu yang diperlukan untuk beralih dari “perubahan atau penambahan kode yang di-commit atau diunggah ke dalam version control system (seperti Git) oleh tim Developer” menjadi “kode berjalan dengan baik di lingkungan production”. Jangan khawatir, di modul yang akan datang, kita akan bahas tuntas tentang alur code deployment ini melalui DevOps Pipeline. Untuk saat ini, mari fokus ke prinsip-prinsip DevOps terlebih dahulu.

DevOps juga menggunakan prinsip-prinsip yang mirip seperti yang diterapkan pada bidang manufaktur, yakni dengan merampingkan alur kerja, menciptakan alur umpan balik dari pelanggan, serta terus belajar dan bereksperimen demi menciptakan proses produksi (dalam hal ini penambahan fitur dan peningkatan kualitas aplikasi) yang semakin baik.

DevOps mampu membawa perubahan yang signifikan pada dunia IT. Bagaimana tidak? Keunggulan kompetitif yang diciptakan oleh DevOps sangatlah besar. Ia mampu mempercepat waktu untuk merilis fitur, menaikkan kepuasan pelanggan, memperluas pangsa pasar, meningkatkan produktivitas dan kebahagiaan pegawai, serta memungkinkan perusahaan untuk menang di pasaran.

Mengapa demikian? Sebabnya karena teknologi telah menjadi proses penciptaan nilai yang dominan dan sarana akuisisi pelanggan yang semakin penting (sering kali menjadi yang utama) di sebagian besar perusahaan.

Dahulu, perusahaan hanya mampu melakukan deployment (entah itu penambahan fitur, perubahan kode, peningkatan kualitas aplikasi, dsb) dalam beberapa minggu hingga bulan saja. Namun, bagaimana untuk sekarang? Frekuensi seperti itu akan dibilang ketinggalan zaman oleh perusahaan lain.

Dengan hadirnya DevOps, perusahaan mampu melangkah di luar batas yang mereka pikirkan. Bayangkan, pada tahun 2009, frekuensi deploy sebanyak 10x per hari sudah dianggap banyak. Akan tetapi, pada tahun 2012, Amazon mencatat bahwa mereka melakukan deploy (rata-rata) sebanyak 23.000x per hari. Sebuah peningkatan yang signifikan, bukan?

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar DevOps yang kita terapkan di perusahaan bisa sehebat itu?

Ketahuilah, sebelum bisa mengimplementasikan DevOps dengan baik, ada prinsip-prinsip DevOps yang perlu diketahui supaya kelak Anda bisa membawa perusahaan ke level yang lebih tinggi dari saat ini.

Terdapat 3 prinsip utama yang akan kita pelajari :

  • Prinsip terkait alur kerja yang mampu mengakselerasi penyelesaian dan/atau penyerahan pekerjaan dari Developer, ke IT Operations, hingga ke pengguna aplikasi.
  • Prinsip terkait umpan balik yang memungkinkan perusahaan untuk menciptakan sistem kerja yang lebih aman dan lebih baik.
  • Prinsip terkait proses belajar dan eksperimen yang berkelanjutan akan menciptakan kultur yang menumbuhkan dua hal, seperti
  • pemahaman bahwa pengulangan dan latihan merupakan syarat untuk menguasai sesuatu
  • kesadaran betapa pentingnya eksperimen yang terus-menerus guna meningkatkan keterampilan pengambilan risiko dan sebagai proses belajar, baik dari keberhasilan maupun kegagalan.

Poin-poin di atas disebut dengan The Three Ways, yakni prinsip-prinsip yang mendasari DevOps. Prinsip-prinsip ini menggambarkan nilai dan filosofi yang dapat memandu Anda dalam mengimplementasikan dan mempraktikkan DevOps di perusahaan Anda. Apabila prinsip-prinsip ini tidak diterapkan atau tidak ada dalam proses pengembangan aplikasi Anda, sebenarnya Anda belum sepenuhnya mengimplementasikan DevOps.

Lanjutkan Ke :  CALMS Framework: Automation

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *